Pandemi COVID-19 yang makin meluas sangat berdampak bagi para pelajar. Segala protokol pun mulai dijalankan pemerintah pusat dan daerah untuk menghentikan penyebaran virus. Salah satu protokol yang dijalankan adalah penghentian sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah atau kampus. Sudah berbulan-bulan lamanya kita belajar dari rumah tanpa bimbingan langsung dari pengajar.
Sebagai mahasiswa yang kuliah di jurusan farmasi. Materi-materi yang didapatkan melalui belajar online rasanya sangatlah kurang, perlu pemahaman lebih dalam yang dilakukan secara mandiri, bersama kelompok, bimbingan belajar, atau diskusi dengan dosen yang bersangkutan.
Tapi kamu gak perlu khawatir! Melalui smartphone Android dan iPhone yang kamu miliki, sekarang ada banyak opsi aplikasi belajar tanpa bayar yang bisa diakses dengan internet, contohnya seperti aplikasi Kamus Farmasi Offline.
Kamus Farmasi Offline merupakan sebuah aplikasi mobile yang digunakan untuk mempermudah dalam mencari arti dari istilah-istilah dalam ilmu Farmasi
Untuk mengetahui istilah dalam ilmu Farmasi tidak bisa sembarangan karena sangat banyak kata istilah yang seharusnya anda bisa menghafalnya.
Kamus Farmasi merupakan aplikasi offline yang berisi istilah-istilah dalam bidang Farmasi baik dalam bidang akademik ataupun bukan akademik.
Kelebihan Aplikasi Kamus Farmasi Offline, antara lain : ✓ Dapat membagikan istilah beserta definisi ke orang lain ✓ Terdapat fitur pencarian istilah Farmasi ✓ Tidak memerlukan akses internet ✓ Ribuan istilah Farmasi dalam 1 aplikasi ✓ Ringan dan mudah digunakan
TEMULAWAK Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah tumbuhan obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Ia berasal dari Indonesia, khususnya Pulau Jawa, kemudian menyebar ke beberapa tempat di kawasan wilayah biogeografi Malesia. Saat ini, sebagian besar budidaya temu lawak berada di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina tanaman ini selain di Asia Tenggara dapat ditemui pula di China, Indochina, Barbados, India, Jepang, Korea, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Nama daerah di Jawa yaitu temulawak, di Sunda disebut koneng gede, sedangkan di Madura disebuttemu labak. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah sampai ketinggian 1500meter di atas permukaan laut dan berhabitat di hutan tropis. Rimpang temu lawak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang gembur.
KLASIFIKASI TEMULAWAK Tanaman temulawak atau yang memiliki nama ilmiah Curcuma zanthorriza Roxb mungkin biasa anda temui dalam rupa sebagai minuman, salah satunya banyak dimanfaatkan sebagai jamu godog oleh para pembuat jamu tradisional. TemulawakTemulawak sendiri merupakan tanaman yang tergolong memiliki banyak sebutan seperti kuntit, koneng gede, temulawak dan masih banyak sebutan lainnya tergantung dari daerah asalnya, namun sebenarnya tetap mengacu pada jenis yang sama. Berikut akan dibahas terlebih dahulu mengenai klasifikasi tanaman temulawak dalam dunia tumbuhan untuk mengenal lebih dalam temulawak itu sendiri, yaitu: Kingdom (Kerajaan) : Plantae Division (Divisi) : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Class (Kelas) : Monocotyledoneae Ordo : Zingiberales Famili : Zingiberaceae (suku jahe-jahean) Genus : Curcuma Spesies : Curcuma zanthorriza Roxb
MORFOLOGI TEMULAWAK Setelah mengetahui klasifikasi dari tanaman temulawak diatas, akan dibahas ciri-ciri morfologi penyusun tanaman temulawak itu sendiri agar lebih memahami rupa dari tanaman temulawak. Temulawak ini juga merupakan tanaman yang bisa dengan mudah dibudidayakan, dimana hanya dengan mengambil satu bagian saja dari tanaman tersebut lalu ditanam di dalam tanah, maka dengan hanya beberapa bulan saja, tanaman tersebut dapat berkembang dan tumbuh menjadi besar. Meskipun tanaman temulawak memiliki batang dan juga daun, namun pemanfaatan tanama tersebuta memang hanya sebatas pada bagian rimpangnya. Berikut beberapa ciri-ciri morfologinya lebih detail tentang tanaman temulawak, diantaranya: Batang Tanaman temulawak ini merupakan jenis tanaman tahunan yang tumbuh secara merumpun, dimana batangnya merupakan batang semu yang terdiri dari beberapa gabungan pangkal daun yang bersifat terpadu. Secara umum, tinggi tanaman temulawak dapat mencapai ketinggian hingga 1 meter. Batangnya memiliki warna hijau atau kecoklatan. Tiap rumpun tanaman temulawak ini terdiri dari beberapa tanaman anakan yang mana tiap tanamannya memiliki 2 – 9 helai daun. Akar Tanaman temulawak memiliki sistem perakaran serabut, yang mana panjang akarnya dapat mencapai kisaran 25 cm dengan bentuk yang sangat tidak beraturan. Akar-akar tanaman temulawak ini melekat dan keluar dari rimpang induknya. Rimpang induk ini memiliki bentuk yang bulat dan agak oval, serta bagian sampingnya terbentuk 3 -4 rimpang cabang yang memanjang. Pada tanaman temulawak ini, rimpangnya berukuran besar dan bercabang-cabang dan memiliki warna kulit rimpang coklat kemerahan. Daun Daun pada tanaman temu lawak memiliki bentuk yang memanjang dan agak lebar hingga lanset. Daun temulawak ini memiliki panjang sekitar 50 – 55 cm dan lebar sekitar 15 cm. Daun tanaman ini berwarna hijau tua dan seluruh ibu tulang daunnya bergaris coklat keunguan. Bunga Tanaman temulawak memiliki bunga yang tangkai bunganya cukup ramping dengan jenis perbungaan lateral yang keluar dari rimpangnya serta membentuk rangkaian bulir. Bunga pada tanaman ini memiliki bentuk bulat seperti telur dan mempunyai daun pelindung yang ukurannya cukup besar serta jumlahnya banyak. Secara umum, bunga temulawak memiliki warna kuning dan kelopaknya berwarna kuning tua, sedangkan pada bagian pangkal bunganya berwarna ungu. Tangkai bunga tanaman temulawak memiliki panjang lebih dari 3 cm dan rangkaian bunganya (inflorescentia) mencapai 1,5 cm. Disisi lain, pada satu ketiak dapat terdiri dari 3 – 4 bunga. Demikian, itulah rincian mengenai ciri dan klasifikasi dari tanaman temulawak. Tanaman temulawak memiliki banyak manfaat yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan semakin menambah pengetahuan kita untuk mengenali, menanam serta membudidayakan tanaman temulawak.
ANATOMI Curcuma xanthorrhiza ( Temulawak ) Makroskopis Keping tipis, berbentuk bundar atau jorong , ringa, keras, rapuh, garis tengahnya sampai 6 cm, dan tebal 2 mm sampai 5 mm. Permukaan berkerut, warna coklat kuning sampai coklat. Bidang irisan berwarna coklat kuning buram, melengkung tidak beraturan dan tidak rata. Sering dengan tonjolan melingkar pada batas antara silinder pusat dengan korteks. Korteksnya sempit dan mempunyai tebal 3 mm sampai 4 mm. Bekas patahan berdebu, berwarna kuning jingga sampai coklat jingga terang. Mikroskopik Epidermisnya bergabus, dan terdapat sedikit rambut yang berbentuk kerucut bersel satu. Hipedermis agak menggabus, dibawahnya terdapat periderm yang kurang berkembang. Korteks dan silinder pusat parenkimatik terdiri dari sel parenkim berdinding tipis berisi butir pati. Dalam parenkim tersebar banyak sel minyak yang berisi minyak berwarna kuning dan zat berwarna jingga., juga terdapat idioblas berisi hablur kalsium oksalat berbentuk jarum kecil. Butir pati berbentuk pipih, bulat panjang ampai bulat telur memanjang. Panjang butir 20µm sampai 70 µm, lebar 5µm samapai 30 µm, tebal 3µm sampai 10 µm, lamella jelas dan hilus di tepi. Berkas pembuluh tipe kolateral, tersebar tidak beraturan pada parenkim korteks dan pada silinder pusat. Berkas pembuluh disebelah dalam endodermis tersusun dalam lingkaran dan letaknya lebih berdekatan satu dengan yang lainnya. Pembuluh didampingi oleh sel sekresi yang panjangnya sampai 200 µm, berisi zat berbutir warna coklat dengan besi (III) klorida LP menjadi lebih tua.
ZAT BERKHASIAT/KANDUNGAN KIMIA Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) mengandung kurkuminoid, minyak atsiri, pati, protein, lemak, selulosa, dan mineral. Diantara kandungan-kandungan tersebut yang paling banyak digunakan adalah pati, kurkuminoid, dan minyak atsiri. Pati merupakan kandungan kimia terbesar dari temulawak. Pati temulawak berwarna putih kekuningan karena mengandung kurkuminoid. Kadar protein pati temulawak lebih tinggi dibandingkan dengan pati tanaman lainnya sehingga dapat digunakan sebagai bahan makanan. Kurkuminoid pada temulawak terdiri atas kurkumin dan desmetoksikurkumin. Kurkuminoid merupakan kandungan kimia yang memberikan warna kuning pada rimpang temulawak. Kurkuminoid mempunyai aroma khas, tidak toksik (tidak beracun), dan berbentuk serbuk dengan rasa sedikit pahit. Minyak atsiri pada temulawak mengandung seskuiterpen, acurcumene, 1-sikloisoprenmyrcene, zingiberene, xanthorrhizol, turunan lisabolen, epolisid-bisakuron, bisakuron A, B, C, ketonseskuiterpen, turmeron, a-turmeron, a-atlanton, germakron, monoterpen, sineol, dborneol, d-a-phellandrene, dan d-camphene. Di dalam komponen minyak atsiri terdapat xanthorrhizol, dimana xanthorrhizol hanya terdapat pada minyak atsiri rimpang temulawak. Xanthorrhizol memiliki aktivitas antibakteri, antiseptik, dan antibiotik serta antikanker .
BAGIAN YANG DIGUNAKAN Bagian yang digunakan pada temulawak adalah rimpangnya karena mengandung berbagai senyawa kimia bermanfaat. Senyawa kimia itu di antaranya, atsiri xanthorrhizol, fellandrean dan turmerol, kamfer, glukosida, foluymetik karbinol, kurkuminoid, serta kurkumin. Bahkan, kurkumin terbukti sebagai antioksidan serta dapat melindungi hati dari racun.
BUDIDAYA TEMULAWAK Secara alami temulawak tumbuh dengan baik di lahan-lahan yang teduh dan terlindung dari teriknya sinar matahari. Dihabitat alami rumpun tanaman ini tumbuh subur di bawah naungan pohonbambu atau jati. Akan tetapi temulawak juga dapat dengan mudah ditemukan di tempat yang terik seperti tanah tegalan. Secara umum tanaman ini memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah beriklim tropis. Pembibitan : Perbanyakan tanaman temulawak dilakukan menggunakan rimpang-rimpangnya baik berupa rimpang induk (rimpang utama) maupun rimpang anakan (rimpang cabang). Keperluan rimpang induk adalah 1.500-2.000 kg/ha dan rimpang cabang sebanyak 500-700 kg/ha. Persyaratan Bibit : Rimpang untuk bibit diambil dari tanaman tua yang sehat berumur 10 -12 bulan. Penyiapan Bibit : Tanaman induk dibongkar dan bersihkan akar dan tanah yang menempel pada rimpang. Pisahkan rimpang induk dari rimpang anak. Bibit rimpang induk : Rimpang induk dibelah menjadi empat bagian yang mengandung 2-3 mata tunas dan dijemur selama 3-4 jam selama 4-6 hari berturut-turut. Setelah itu rimpang dapat langsung ditanam. Bibit rimpang anak : Simpan rimpang anak yang baru diambil di tempat lembab dan gelap selama 1-2 bulan sampai keluar tunas baru. Penyiapan bibit dapat pula dilakukan dengan menimbun rimpang di dalam tanah pada tempat teduh, meyiraminya dengan air bersih setiap pagi/sore hari sampai keluar tunas. Rimpang yang telah bertunas segera dipotong-potong menjadi potongan yang memiliki 2-3 mata tunas yang siap ditanam. Bibit yang berasal dari rimpang induk lebih baik daripada rimpang anakan. Sebaiknya bibit disiapkan sesaat sebelum tanam agar mutu bibit tidak berkurang akibat penyimpanan. Pengolahan Media Tanam Persiapan Lahan : Lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau pekarangan. Penyiapan lahan untuk kebun temulawak sebaiknya dilakukan 30 hari sebelum tanam. Pembukaan Lahan: Lahan dibersihkan dari tanaman-tanaman lain dan gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan kunyit. Lahan dicangkul sedalam 30 cm sampai tanah menjadi gembur. Pembentukan Bedengan : Lahan dibuat bedengan selebar 120-200 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 30-40 cm. Selain dalam bentuk bedengan, lahan dapat juga dibentuk menjadi petakan-petakan agak luas yang dikelilingi parit pemasukkan dan pembuangan air, khususnya jika temulawak akan ditanam di musim hujan. Pemupukan Organik (sebelum tanam) : Pupuk kandang matang dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 1-2 kg. Keperluan pupuk kandang untuk satu hektar kebun adalah 20-25 ton karena pada satu hektar lahan terdapat 20.000-25.000 tanaman. Teknik Penanaman Penentuan Pola Tanaman : Penanaman dilakukan secara monokultur dan lebih baik dilakukan pada awal musim hujan kecuali pada daerah yang memiliki pengairan sepanjang waktu. Fase awal pertumbuhan adalah saat dimana tanaman memerlukan banyak air. Pembutan Lubang Tanam : Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30 x 30 cm dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60 cm. Cara Penanaman : Satu bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan posisi mata tunas menghadap ke atas. Setelah itu bibit ditimbun dengan tanah sedalam 10 cm. Periode Tanam : Masa tanam temulawak yaitu pada awal musim hujan untuk masa panen musim kemarau mendatang. Penanaman pada di awal musim hujan ini memungkinkan untuk suplai air yang cukup bagi tanaman muda yang memang sangat membutuhkan air di awal pertumbuhannya. Pemeliharaan Tanaman Penyulaman : Tanaman yang rusak/mati diganti oleh bibit yang sehat yang merupakan bibit cadangan. Penyiangan : Penyiangan rumput liar dilakukan pagi/sore hari yang tumbuh di atas bedengan atau petak bertujuan untuk menghindari persaingan makanan dan air. Peyiangan pertama dan kedua dilakukan pada dua dan empat bulan setelah tanam (bersamaan dengan pemupukan). Selanjutnya penyiangan dapat dilakukan segera setelah rumput liar tumbuh. Untuk mencegah kerusakan akar, rumput liar disiangi dengan bantuan kored/cangkul dengan hati-hati. Pembumbunan : Kegiatan pembumbunan perlu dilakukan pada pertanaman rimpang-rimpangan untuk memberikan media tumbuh rimpang yang cukup baik. Pembumbunan dilakukan dengan menimbun kembali area perakaran dengan tanah yang jatuh terbawa air. Pembumbunan dilakukan secara rutin setelah dilakukan penyiangan. Pemupukan : Pemupukan Organik : Pada pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organik ini dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembumbunan. Pemupukan Konvensional : 1. Pemupukan Awal Pupuk dasar yang diberikan saat tanam adalah SP-36 sebanyak 100 kg/ha yang disebar di dalam larikan sedalam 5 cm di antara barisan tanaman atau dimasukkan ke dalam lubang sedalam 5 cm pada jarak 10 cm dari bibit yang baru ditanam. Larikan atau lubang pupuk kemudian ditutup dengan tanah. Sesaat setelah pemupukan tanaman langsung disiram untuk mencegah kekeringan tunas. 2. Pemupukan Susulan Pada waktu berumur dua bulan, tanaman dipupuk dengan pupuk kandang sebanyak 0,5 kg/tanaman (10-12,5 ton/ha), 95 kg/ha urea dan 85 kg/ha KCl. Pupuk diberikan kembali pada waktu umur tanaman mencapai empat bulan berupa urea dan KCl dengan dosis masing-masing 40 kg/ha. Pupuk diberikan dengan cara disebarkan merata di dalam larikan pada jarak 20 cm dari pangkal batang tanaman lalu ditutup dengan tanah.
KHASIAT TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) Temulawak memiliki banyak manfaat, baik secara tradisional mauitu sebagai penambah nafsu makan, penyembuh penyakit maagbanyak Air Susu Ibu (ASI), mengobati gangguan saat nifas dan menstruasi, membersihkan wajah dari bakteri penyebab jerawat, memperbaiki fungsi pencernaan, memeihara fungsi hati, mengurangi nyeri sendi dan tulang, menurunkan lemak darah, sebagai antioksidan untuk memelihara kesehatan, dan membantu penggumpalan darah. Selain itu, temulawak juga memiliki manfaat sebagai antihepatitis, antikarsinogenik, antimikroba, antioksidan, antihiperlipidemia, antiviral, antiinflamasi, dan detoksifikasi. Diketahui juga efek diuretikum ke ginjal, yaitu efek mempercepat pembentukan urin.
PANEN TEMULAWAK Ciri dan Umur Panen : Rimpang dipanen dari tanaman yang telah berumur 9-10 bulan. Tanaman yang siap panen memiliki daun-daun dan bagian tanaman yang telah menguning dan mengering, memiliki rimpang besar dan berwarna kuning kecoklatan. Cara Panen: Tanah disekitar rumpun digali dan rumpun diangkat bersama akar dan rimpangnya. Periode Panen : Panen dilakukan pada akhir masa pertumbuhan tanaman yaitu pada musim kemarau. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya. Perkiraan Hasil Panen : Tanaman yang sehat dan terpelihara menghasilkan rimpang segar sebanyak 10-20 ton/hektar.
oh iya kalau teman-teman ingin mengunduh materi ini saya berikan pdf nya yaaa..